Feed on
Posts
comments

Jangan melangkah setengah hati

Namanya Abu Qais. Berasal dari Bani Waqif, sebuah kampung di Madinah. Ia bahkan kepala suku itu. Tidak ada yang istimewa dari Abu Qais, juga Bani Waqif, kecuali justru ialah satunya-satunya kabilah yang menolak Islam, ketika Mus’ab bin Umair mengubah Yatsrib menjadi kampung Muslim yang terang benderang. Ketika kemudian tidak ada rumah pun kecuali di dalamnya ada muslim atau muslimah.

 

Bila Abu Qais tak kunjung menerima Islam, itu bukan karena ia tak mengerti. Abu Qais tidak saja kepala suku yang pintar. Ia juga penyair ulung, tokoh yang disegani, dan penganut ‘agama’ hanifiyah, sebuah keyakinan kepada ‘keaslian kemanusiaan’ yang lurus. Keyakinan itu pula bahkan, yang menjadikannya menolak menjadi Yahudi atau Nasrani. Tetapi itu pula yang membuatnya tak segera mau menerima Islam. Di dalam dirinya ada bimbang, juga kehendak setengah hati untuk menerima Islam. Baginya, menjadi orang hanifiyyun dirasa sudah cukup. Ia lantas mengumandangkan beberapa bait syair:

 

manusia sangat perlu

pada banyak hat yang

kesulitan bisa luluh di sekitarnya

manusia sangat perlu

pada sesuatu yang

bila tersesat is menunjuki ke jalan yang baik

kalaulah tidak karena Tuhan kita, kita telah menjadi Yahudi

kalaulah tidak karena Tuhan kita, kita telah menjadi Nasrani

bersama para rahib di gunung-gunung yang tinggi

tetapi kita dicipta ketika dicipta,

agama kita adalah kemanusiaan yang lurus

 

Syair ini justru menggambarkan betapa ia tidak bisa begitu saja menerima Islam. Ia merasa cukup dengan apa yang selama ini diyakini. Menjadi orang ‘baik-baik saja’. Sudah begitu, dedengkot kaum munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul terus memengaruhinya untuk tidak menerima Islam. Hingga keraguan semakin memenuhi isi hatinya

Hari-hari terus berlalu. Bahkan ketika kota Makkah ditaklukkan Rasulullah, Abu Qais masih setengah hati untuk mau menerima Islam. Sampai akhirnya, ia berjanji akan masuk Islam tahun depan. Tetapi apa lacur? Satu bulan kemudian, ia meninggal, menemui ajal yang tak pernah ia sangka kapan datangnya.

Ini kisah tentang keputusan setengah hati yang membawa bencana. Bagaimana tidak? Adakah bencana yang lebih bencana, dari mati tidak sebagai muslim? Adakah bencana yang lebih mengerikan, dari menolak cahaya Islam yang Sudah ada di pelupuk mata? Adakah yang lebih bencana, dari ragu menerima ajakan Rasul, padahal orang mulia itu hidup satu jaman, satu masa, dan satu tanah air?

Sebuah keputusan adalah nasib. Ia mengambil perannya pada wilayah ikhtiar kemanusiaan kita. Kita menetapkan, dan karenanya kita meniti kemantapan. Kita berbuat, dan karenanya kita akan menuai hasil. Kita menanam, dan karenanya kita akan memetik.

Pada sebagian besar keputusan kita, ada implikasi yang sangat serius. Implikasi bahagia atau sengsara, pahit atau manis, bahkan, surga atau neraka. Itulah implikasi nasib kita. Terlebih keputusan yang berhubungan dengan puncak segala urusan: iman kepada kebenaran Islam. Sesuatu yang akan menjadi bekal utama seseorang untuk menghadap Allah kelak di hari akhirat.

Karenanya, hidup tidak memberi ruang yang istimewa bagi segala keputusan yang setengah hati. Tidak saja karena ia bisa mengundang bencana, tetapi waktu yang berlalu tak mungkin diputar ke depan. Sebuah keputusan masa lalu yang kini menjadi hitam-putih nasib kita, tak akan bisa memutar ulang versi revisinya.

Juga karena waktu berjalan begitu cepat, ia tak memberi tempat untuk segala keputusan setengah hati kita. Keputusan setengah hati adalah perjalanan yang terhenti karena tertinggal kereta. Keputusan setengah hati adalah bangun dan menguap saat matahari telah meninggi. Terlampau banyak yang telah lewat dan berlalu tanpa kita sadari. Seperti Abu Qais yang begitu saja melewatkan masa-masa terbaik dari seluruh jaman yang ada di bumi. Ia mencoba menunda keislamannya satu tahun mendatang. Ia masih ragu. Sebenarnya, kapasitas intelektualnya sangat memadai untuk mencerna, memahami dan mengerti bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah adalah benar. Tetapi ia hanya melengkapi ’semacam tradisi’ orang-orang pintar, yang selalu setengah hati untuk memutuskan mengambil jalan kebaikan. Justru karena bermain dengan argumentasi ilmiah, atau karena pengaruh lingkungan, pengaruh orang-orang tertentu, atau dengan alasan menjaga gengsi, semuanya menjadikan keputusan untuk meniti jalan yang baik hanya kehendak setengah hati.

Romantika dengan jati diri masa lalu juga memberi andil bagi sebuah keputusan yang setengah hati. Setiap orang punya kebiasaan masa lalunya, yang mungkin sudah mendarah dan mendaging dalam dirinya. Dari soal kebiasaan, etika, bahkan keyakinan, yang bertahun-tahun dijalani, hingga segala sesuatunya telah menginternal dalam cita rasa dan perilaku dirinya.

Seperti Abu Qais yang punya masa lalu sebagai orang hanifiyyun, orang yang tulus dengan ‘madzhab kemanusiaan’. Sebuah pandangan yang sebenarnya terwarnai oleh sisa-sisa peninggalan agama nabi Ibrahim. Tidak mudah baginya untuk mengubah jati dirinya. Padahal menjadi baik secara kemanusiaan saja belum cukup. Harus ada afiliasi ideologis. Harus ada ‘merek agama’ pada segala tindak tanduk setiap orang.

Sebuah kesempatan untuk kita mengubah diri, kadang tidak datang dua kali. Karenanya keputusan setengah hati pada momentum yang sangat istimewa -seperti dalam contoh Abu Qais- itu adalah perjudian dengan kerugian yang sudah pasti. Adalah mengadu nasib dengan kekalahan yang sudah pasti. Tidak saja karena kesempatan tidak selalu datang berulang, juga karena keputusan itu berpacu dengan kematian yang bisa datang kapan saja. Seperti satu tahun menunda menjadi Islam, yang diputuskan Abu Qais, mungkin dianggapnya tidak lama. Tetapi itu sangat terlalu lama untuk sebuah kematian. Karena ternyata, kematian hanya memberi jeda waktu satu bulan, sebuah jangka yang tak pernah ia mengerti.

Apa yang ada di sekitar kita harus menjadi bahan yang memadai untuk membantu kita memutuskan segala kepentingan hidup kita. Terlebih bila dalam urusan agama. Orang yang yakin, tetapi salah, jauh lebih bisa bersikap ketimbang orang-orang yang setengah hati. Sebab orang yang yakin tetapi salah, akan secepatnya belajar, mengevaluasi diri, lalu mencari jalan yang benar, lalu ia jalani yang lebih baik itu juga dengan keyakinan yang kuat. Sementara orang-orang yang hidup dengan setengah hati, hanya akan banyak membuang waktu. Berlari dari kebimbangan yang satu ke kebimbangan yang lain.

Sebuah keputusan adalah nasib. Tidak saja dalam pengertian ideologi, tapi juga untuk banyak urusan hidup duniawi. Setiap kita punya titian hidup yang berbeda. Punya momentum penting yang berbeda. Punya kesempatan emas yang berbeda. Tetapi segalanya bertumpu pada satu hal: keputusan sepenuh hati untuk bertindak, dengan keyakinan yang benar, pada waktu yang tepat, dan dengan perhitungan yang cermat. Ini memang tidak mudah. Tetapi, untuk kepentingan apapun -terlebih untuk meniti jalan hidup keislaman- tidak ada waktu dan tempat untuk sebuah keputusan yang setengah hati. Kita harus mencoba. Karena tak ada pilihan lagi selain itu. Wallahu’alam

Sumber : Lentera Kehidupan

Jangan Sok Tahu!

Di sebuah perjalanan yang melelahkan, seorang sahabat di masa Rasulullah mengalami kecelakaan. Kepalanya tertimpa batu, Darah mengucur dari luka yang sangat serius.

Perjalanan tetap dilanjutkan. Hingga malam datang menjelang. Jabir, salah seorang pengisah cerita itu menuturkan, bahwa mereka kemudian tidur pada malam yang sangat dingin itu, Keesokan harinya, lelaki yang terluka itu bangun. Rupanya semalam ia bermimpi yang menyebabkan ia harus mandi besar. Segera ia bertanya kepada kawan-kawannya, adakah ia punya keringanan untuk bertayamum saja karena luka menganga di kepalanya?

 

Orang-orang menjelaskan, “Tidak ada keringanan bagi engkau, selama engkau bisa mendapatkan air.”

Maka lelaki yang terluka itu pun mandi. Ia siram seluruh badannya, tak terkecuali kepalanya yang terluka. Karena mandi besar memang harus menyiram seluruh anggota badan. Ternyata luka parah di kepalanya yang tersiram air itu, mengantarkannya menemui ajal. Lelaki itu meninggal dan pergi untuk selama-lamanya.

Sekembali ke Madinah, Jabir mengisahkan kematian lelaki itu kepada Rasulullah. Juga tentang orang-orang yang memberi jawaban bahwa ia harus tetap mandi dengan alasan masih bisa mendapatkan air.

Rasulullah marah besar. Bahkan sangat marah. “Mereka telah membunuh orang itu. Semoga Allah membinasakan mereka,” begitu reaksi Rasulullah, Lalu ia melanjutkan, “Mengapa orang-orang itu tidak mau bertanya kalau memang tidak tahu, karena sesungguhnya penawar kebodohan itu adalah bertanya. Padahal semestinya lelaki itu cukup bertayamum, dan membungkus bagian lukanya dengan alas yang keras, lalu mengusap diatasnya dengan air. Baru kemudian menyiram dan membasahi sisa anggota badannya.”

Sebuah kematian memang punya waktu dan tempatnya. Juga caranya yang berbeda-beda. Ini takdir yang sudah tertitah pasti. Tetapi kemarahan Rasulullah yang sangat pada kasus di atas, menunjukkan betapa tindakan ceroboh yang menyebabkan kematian orang lain, tetaplah kesalahan. Dan, itu layak mendapat kecaman.

Secara alur sebab akibat, banyak kejadian penting dalam hidup ini bermula dari sebuah keputusan ‘sok tahu’ kita. Padahal kejadian itu menjadi menyejarah di kemudian waktu, baik maupun buruk, salah maupun benar. Dan, kata kunci dari segala keputusan kita meski sederhana adalah sebatas mana pengetahuan kita tentang apa dan mengapa kita membuat keputusan itu.

Orang-orang itu merasa tahu bahwa lelaki yang luka kepalanya itu harus mandi. Sebuah pengetahuan yang salah dan terbatas. Lalu mereka bersikap, bahwa tak ada keringanan untuk tidak mandi. Dan, sebuah sikap merasa tahu telah menyebabkan kematian yang mengenaskan. Kematian yang menyejarah, ditulis dalam beribu buku, dikaji dari berbagai sudut pandang, hingga saat ini.

Kajian terpenting dari kasus ini, ialah bahwa hidup tidak menyisakan banyak area untuk pengetahuan yang abu-abu, remang-remang atau setengah-setengah. Sebab hidup harus berjalan dengan mekanisme yang pasti. Karena-nya, pengetahuan yang setengah-setengah, sulit bisa dipakai untuk landasan sebuah tatanan hidup, Ia juga tidak akan banyak menyelasaikan masalah, justru bisa menjadi sumber masalah. Tetapi lebih buruk dari tidak tahu adalah bersikap ‘sok tahu’ yang bahasa gaulnya disebut sotoy. Karena sikap ’sok tahu’ hampir selalu menjadi sumber bencana.

Dalam pengertian seperti ini, kita memahami, mengapa Rasulullah, secara lebih tegas, dalam kesempatan lain, mengatakan, “Jika suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”

Hidup ini harus ditata dengan keahlian. Sedang induk keahlian adalah pengetahuan. Orang-orang yang tidak tahu dalam suatu urusan, tidak boleh merasa tahu. Meski pada saat yang sama ia juga harus terus meningkatkan pengetahuannya.

Bersikap ’sok tahu’, secara moral mengandung unsur ‘pengkhianatan’. Ini mungkin terlalu kejam. Tapi begitulah kenyataannya. Pengkhianatan terhadap diri sendiri. Pengkhianatan terhadap kapasitas yang sesungguhnya kita miliki. Juga pengkhianatan kepada pada korban yang meyakini bahwa kita tahu. Akan ada manipulasi yang mengerikan dari segala sikap ’sok tahu’ dari siapa saja, padahal dirinya tidak-mengerti. Karenanya sangat beralasan mengapa Rasulullah begitu marah kepada orang-orang itu. Kecaman Rasulullah, juga ungkapannya, ‘Semoga Allah membinasakan mereka’ adalah refleksi mendalam betapa seriusnya permasalahan yang bisa ditimbulkan oleh orang-orang yang ’sok tahu’. Seserius penjelasannya tentang urusan yang akan hancur bila ditangani bukan oleh ahlinya.

Ini harus menjadi perhatian siapapun. Prinsip ini juga berlaku dalam segala sisi kehidupan dan dalam segala disiplin pengetahuan. Setiap kecerobohan akan melahirkan bencana. Dalam bidang syari’at Islam, orang-orang yang ’sok tahu’ dan dengan mudah mengumbar fatwa halal haram, bisa menyebabkan terjerumusnya orang lain kepada kesalahan ideologis dan hukum yang sangat fatal.

Karenannya, para ulama salaf mencela sebagian ahli ilmu di zamannya yang tergesa-gesa menetapkan fatwa tanpa pertimbangan yang matang dan meyakinkan. “Sesungguhnya  seorang di antara kalian memberikan fatwa tentang suatu masalah yang andaikata disampaikan kepada Umar tentu ia mengumpulkan ahli Badar untuk itu.” Sebagian yang lain mengatakan, “Orang yang paling berani berfatwa di antara kalian adalah orang yang paling berani masuk neraka.”

Pada jaman yang terus berkembang, 3 penyakit merasa tahu punya tempat salurannya yang luar biasa. Seperti dunia pengamat dan dunia politisi, misalnya. Karena untuk dua  profesi ini, pengetahuan, dalam batas tertentu, cukup diwadahi dengan ucapan dan retorika bicara.

Padahal hidup adalah dunia nyata, bukan dunia omongan yang berbusa-busa. Disinilah mengapa, orang yang pandai bicara belum tentu pandai bekerja. Karena pengetahuan, akan menemukan pembenarannya di alam yang sesungguhnya: alam kerja nyata.

Dalam sisi kehidupan lain yang lebih berdimensi sosial, kecerobohan dan sikap ’sok tahu’ bisa membunuh tidak saja satu orang yang luka kepalanya. Seperti sebuah definisi yang salah tentang terorisme, dari orang-orang kerdil dan sok tahu, misalnya, telah membunuh ribuan orang diberbagai belahan dunia, serta mengebiri jutaan lainnya. Sementara, di tempat yang lain, orang harus berjibaku dengan nasibnya yang gelap, akibat ulah orang-orang hidup dengan pengetahuan dan keahlian yang ‘ala kadarnya’.

Di tempat lain, sikap sok tahu mendapatkan ramuan penghancur terhebatnya, ketika ia bertemu dengan kekuasaan. Maka penguasa-penguasa yang bodoh, dalam level kekuasaan sekecil apapun akan cenderung otoriter dan ’sok tahu’. Karena itu merupakan cara utama untuk menutupi kedunguannya.

Dalam konteks keimanan, bila Allah mengaitkan kapasitas pengetahuan dan ilmu seseorang dengan kemampuan untuk takut kepada-Nya, maka sudah barang tentu kebalikannya, orang-orang yang bodoh dan miskin pengetahuan, berpeluang besar melakukan dosa dan maksiat kepada-Nya. Terlebih bila mereka bersikap pura-pura tahu atau merasa tahu.

Ibnu Qoyyim berkata, “Dosa itu dipagari oleh dua kebodohan. Bodoh terhadap hakikat sebab-sebab yang bisa memalingkannya, dan bodoh akan hakikat kerusakan yang diakibatkannya. Dari tiap kebodohan itu di bawahnya terdapat kebodohan-kebodohan yang banyak. Maka, Allah tidak dimaksiati kecuali dengan kebodohan dan tidak ditaati kecuali dengan ilmu.”

Tidaklah aib berkata tidak tahu. Suatu hari, Masruq dan beberapa orang lainnya masuk ke rumah Abdullah bin Mas’ud. Kepada mereka Abdullah bin Mas’ud berkata, “Wahai umat manusia, Sesiapa yang mengetahui tentang suatu perkara, hendaklah ia menerangkannya. Dan sesiapa yang tidak mengetahuinya maka hendaklah dia berkata, ‘Allah lebih  mengetahui.’ Kerana berkata demikian itu (Allah lebih mengetahui) tentang sesuatu perkara yang tidak diketahui adalah termasuk dari ilmu.”

Orang-orang yang ’sok tahu’ tidak akan sama dengan orang-orang yang tidak tahu, meski keduanya sama sama tidak tahu. Perbedaan utamanya seringkali terletak pada bencana yang diakibatkannya. Hidup memang makin membutuhkan keahlian spesial. Tetapi jujur atas ketidaktahuan adalah pelengkap yang harus diambil dari segala keahlian. Tidaklah aib berkata tidak tahu. Ini bukan sekadar sudut pandang moral, tapi juga bagian penting dari menjauhi bencana dan menghindari malapetaka. Agar tidak ada orang yang mati begitu saja, hanya karena ulah orang-orang yang ’sok tahu’. Agar juga tak ada yang terlunta-lunta dalam sengsara, karena kecerobohan orang-orang yang tak mengerti apa-apa tapi merasa tahu segala-galanya.

Jangan sok tahu. Dan, jangan sotoy.

Wallahu’alam

Sumber : Lentera Kehidupan

Firasat

Tiba-tiba saja Utsman bin Affan ra berkomentar saat ia didatangi seorang pemuda. “Saya didatangi orang yang tampak bekas zina pada matanya,” kata Utsman. Orang itu terkejut. Namun ia membenarkan perkataan Utsman, bahwa dalam perjalanannya menuju majlis itu, ia memang terpesona oleh kecantikan seorang wanita. “Apakah ada wahyu setelah Rasulullah saw?”. “Tidak ada” tukasnya. Utsman mengatakan, “Tidak, ini hanya pandangan, petunjuk dan firasat yang benar.”

Firasat, menurut Ibnul Qayyim adalah cahaya yang Allah berikan ke dalam hati hambaNya yang sholeh. Cahaya itu menjadikan seorang hamba dapat menduga sesuatu yang akan terjadi pada dirinya, atau menjadikannya dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. (Ar-Ruh, 234).

Meski sama-sama lintasan hati, firasat tentu bukan su’u dzon atau buruk sangka. Firasat tumbuh dari kebersihan hati karena kedekatan seseorang kepada Allah. Sebaliknya buruk sangka tumbuh dari kekotoran hati dan kejauhan hubungan dengan Allah. Ibnu Abbas ra, memaknai kata mutawassimin dalam firman Allah “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda (mutawassimin).” Menurut Ibnu Abbas, mutawassiminadalah mutafarrisin, atau orang-orang yang memiliki firasat.

Pandangan seperti itulah yang dimaksud dalam sabda Rasulullah saw, “Takutlah kalian dengan firasatnya orang mu’min karena ia melihat dengan cahaya Allah.” (HR. Turmudzi). Dalam sebuah hadits Qudsi yang shahih, Rasulullah menyebutkan, “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku yang lebih Aku cintai dari melakukan apa yang telah Aku wajibkan. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaku dengan mengerjakan perintah yang sunnah, kecuali Aku pasti mencintainya. Dan bila aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku akan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat. Aku akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul. Aku akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dengan-Ku lah ia mendengar, melihat, memukul dan berjalan.”

Hadits qudsi ini sekaligus menyebutkan korelasi yang kuat antara kedekatan seorang hamba dan Allah, dengan cahaya Allah yang akan menjadikannya mampu memiliki firasat yang benar.

Rasulullah bisa mengetahui sahabat yang sholat di belakangnya, seperti menyaksikan mereka di hadapannya. Rasulullah juga bisa melihat baitul Maqdis yang jauh secara detail dari tempatnya di Makkah. Ia juga dapat mengetahui kondisi para sahabatnya dalam perang mu’tah, ketika ia berada di Madinah. Rasulullah juga mengetahui ketika Najasyi wafat di Habasyah, padahal Rasulullah berada di Madinah. Atas firasat itulah, Rasulullah mengajak para sahabatnya untuk melakukan shalat ghaib atas wafatnya Najasyi.

Umar bin Khattab pun mengetahui kondisi pasukannya di Nahawand saat berperang melawan pasukan Persia, padahal Umar berada di Madinah. Itu yang menyebabkan secara tiba-tiba, khalifah pertama Islam itu mengatakan, “Pasukan!, naik ke gunung… pasukan naik ke gunung…”

Itulah firasat orang beriman. Ketika ketundukan dan kedekatan kalbu pada Yang Maha Kuasa , melahirkan pandangan yang bersih dan jernih. Wallahu’alam.

 

Sumber : Lentera Kehidupan

I’tikaf

Saudaraku, perjalanan panjang hidup ini telah membuat tumpul hati nurani. Interaksi sosial sering menggoda kita untuk berbuat yang agak keluar dari pakem syari’at. Terutama ketika kesulitan semakin menghimpit. Ukhuwwah yang kita pupuk lama mulai memudar ketika sosok ideal yang kita inginkan dari saudara kita mulai hilang entah kemana. Doktrin tentang kesiapan menerima saudara kita dalam situasi dan kondisi apapun tinggal sebuah doktrin tanpa implementasi.

Rindu yang menggunung akan ukhuwwah yang tergambar dalam siroh nabawiyyah tidak boleh putus hanya karena belum kita temukan. Kita harus terus belajar dan belajar serta bekerja tiada henti. Kita harus berani mengevaluasi diri kita. Seberapa besar kecintaan kita kepada Rosul. Seberapa serius kita mencontoh Rosul.

Ramadhan adalah bulan yang sangat tepat untuk mengevaluasi diri. I’tikaf adalah sarana yang diberikan Allah untuk kita agar kita segera tahu diri. Kita tidak boleh terjebak dengan tepuk tangan massa dan ejekan orang. Apalagi sindiran. Ya Allah, Engkau Maha Tahu diri kami yang berlumur dosa, ampuni kami. Ya Allah, Engkau Maha Tahu semua kebutuhan dan keinginan kami, penuhi ya Robb. Ya Allah, dengan segala keterbatasan, kami mengetuk pintu rahmat-Mu, sayangi kami ya Rahman.

Arahan Ust, Anis Matta

 

SELAMAT DATANG HARAPAN
Arahan Ketua TPPN, Anis Matta,
pada Mukernas PKS 2008, Makassar 21-24 Juli 2008

 

Kita tidak boleh lelah. Sampai hari ini. Bahkan sampai kapan pun. Untuk terus mengulang-ulang cara kita membaca perjalanan panjang perjuangan dakwah ini.

Cara kita memahami setiap satuan capaian akan sangat mempengaruhi persepsi kita tentang keseluruhan perjalanan perjuangan kita. Tidak semata bagaimana capaian itu dihasilkan, tapi juga bagaimana capaian itu dilanjutkan. Tidak semata bagaimana kemudahan didapat, tapi juga bagaimana gangguan dan rintangan datang menghambat.


Itu pula yang akan mengantarkan kita kepada sebuah sikap –sebagaimana dikatakan oleh Harun Al-Rasyid, “Saya tidak bangga dengan keberhasilan yang tidak saya rencanakan, sebagaimana saya tidak akan menyesal atas kegagalan yang terjadi di ujung segala usaha maksimal.” Ya, yang paling sempurna tentu saja keberhasilan yang diberikan Allah setelah usaha dan kerja-kerja maksimal.

Dengan cara membaca yang benar dan menelaah yang utuh tahapan demi tahapan perjalanan kita, maka kita akan selalu mendapat penjelasan baru yang terus menyegarkan, tentang bagaimana realitas perjuangan ini dicapai, dan apa yang harus kita lakukan untuk menciptakan realitas baru berkelanjutan.

 

1. Tafsir keimanan atas kemenangan sebelum kemenangan
Setiap kali realitas internal kita berubah, realitas eksternal di sekeliling kita juga berubah. Pernah ada suatu saat dimana kita tidak percaya bahwa 20% itu mungkin. Itu mimpi. Itu utopia. Kita mungkin tidak mengatakannya. Tapi cara kita bekerja tidak menunjukkan bahwa kita memang yakin bisa mencapainya.

Tapi hari ini semuanya berubah. Keyakinan kita berubah, bersama berubahnya angka-angka tentang PKS dalam survey-survey politik. Jauh sebelum angka-angka itu berubah, sesungguhnya telah terjadi perubahan-perubahan besar dalam diri kita. Pikiran kita berubah. Perasaan kita berubah. Tindakan kita juga berubah. Alam batin kita seluruhnya berubah.

Kesadaran yang mendalam akan adanya gap yang jauh antara target 20% dengan realitas kita dalam survey —yang waktu itu berada dalam posisi 5%— mendorong kita merumuskan STRATEGI yang jelas untuk mencapai sisa TARGET tersebut.

 

Pada saat yang sama, kita terus membangun motivasi bersama yang kuat untuk mencapai target tersebut. Motivasi bukan soal kata-kata. Motivasi adalah soal keyakinan. Dari keyakinan yang kuat, akan lahir pikiran yang besar. Sarana dan sumber daya selalu tunduk pada ide dan pikiran-pikiran. Sebagaimana sebaliknya, ide yang besar dan pemikiran yang kuat, akan menciptaan sarana-sarananya, dengan caranya sendiri. Karena itu, dalam pepatah Arab dikatakan,. Barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.

Perubahan yang berkelindan dengan kesadaran itu, mengantarkan kita kepada tiga situasi batin yang sangat mempengaruhi pertumbuhan pemahaman dan cara kita bekerja. Pertama, kita mulai semakin mengerti apa sebenarnya masalah-masalah kita dan mengerti bagaimana menyusun langkah-langkah kita. Karena itu, dengan caranya yang unik, Allah mensyaratkan perubahan harus dimulai dari kita sendiri, dan permulaan itu adalah bagaimana kita mengerti masalah dan mengerti bagaimana menyusun langkah. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah suatu kaum, hingga kaum itu mengubah diri mereka sendiri.”

Kedua, yang terus berubah dalam diri kita adalah semakin menguatnya kehendak dan kemauan kita. Bahwa setiap kali kemauan kuat kita diberi taufik Allah untuk menjadi kenyataan, semakin pula kemauan itu terus menguat menjadi kehendak. Karena itulah, Islam memiliki caranya sendiri untuk membimbing kita, bahkan bila pun kerja-kerja kita tidak mendapatkan pengakuan yang semestinya dari orang lain, itu tidak boleh mengganggu semangat dan kekuatan kehendak. Sebab, Allah telah menjamin pengakuan dari-Nya, dengan caran-Nya sendiri. Bahwa Allah Yang Maha Melihat, menegaskan, Ia pasti akan melihat karya-karya itu. “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.”

Ketiga, bahwa di dalam diri kita juga terus menguat spirit untuk terus bekerja dan bekerja. Dan bahkan dalam keberlanjutan kerja itulah proses menjadi baik, mendapat ampunan, dan diperbaiki oleh Allah akan kita dapatkan. Bila kita terus bekerja, mungkin akan selalu ada yang salah. Tapi dengan terus bekerja itulah Allah berjanji akan memperbaiki kesalahan kita. “Dan orang-orang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal-amal yang shalih, serta beriman pula kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka.” (QS. Muhammad: 2).

 

2. Hubungan kausalitas dalam peristiwa sejarah.

Sejarah umat Islam sangat kaya dengan pelajaran penting tentang hukum sebab akibat. Bahwa sebuah kemenangan memiliki syarat-syaratnya. Sebagaimana kehancuran sebuah bangsa, sebuah umat, memiliki sebab-sebabnya. Sebagaimana para individu memiliki ajal, begitu juga sebuah umat, memiliki umurnya sendiri. Allah SWT berfirman, “Dan setiap jiwa yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” Dalam firman-Nya yang lain, “Dan bagi setiap umat ada ajalnya.” Karena itu, sebelum jauh-jauh berbicara tentang bagaimana sebuah partai harus menang, yang harus kita lakukan adalah menanyakan tentang bagaimana sebuah partai bisa hidup. Umur partai ditentukan oleh umur misinya, selama misi itu hidup, maka selama itu partai itu hidup. Hal-hal yang membuat sebuah partai bisa hidup adalah:

- Adanya misi kemanusiaan yang luhur dalam kerja-kerja politik partai itu. Misi itulah yang akan memberi sentuhan-sentuhan kemanusiaan pada kerja-kerja politik.

- Misi itu juga akan menerbitkan manfaat langsung, dalam bentuk spritual maupun material. Kehadiran partai yang punya misi akan memberi manfaat secara politik, sosial, maupun ekonomi.
Tetapi untuk bisa menjalankan misi itu, kita harus menjadi partai politik yang punya kemampuan untuk memimpin, leading, dengan menjalankan politik kemanusiaan di tengah politik kepentingan. Setelah berbicara tentang bagaimana sebuah partai politik bisa hidup
, maka kita harus berbicara tentang bagaimana partai politik itu bisa memimpin. Untuk menjadi partai yang mampu memimpin (leading) kita harus memiliki tiga hal. Dan, tiga hal ini yang harus terus kita ulang-ulang:

- Pertama, narasi yang besar. Kita hanya akan memimpin apabila kita membawa gagasan besar yang dapat merangkul dan mewadahi seluruh harapan dan energi masyarakat. Gagasan itulah yang memberi kanal yang dapat menyalurkan energi yang ada pada masyarakat dan mengubahnya menjadi harapan bersama yang mencerahkan.

- Kedua, kapasitas. Gagasan besar itu hanya akan menjadi realitas kalau ada kapasitas yang memadai —pada skala individu maupun struktur— yang dapat mengeksekusi gagasan itu.

- Ketiga, sumber daya. Dalam segala bentuknya, seperti informasi, pengetahuan, sarana finansial, dan lain-lain adalah sarana yang diperlukan untuk mengeksekusi gagasan tersebut. Jadi, makin besar narasi, kapasitas, dan sumber daya kita, makin besar kemampuan kita mengeksekusi. Itu modal yang besar. Sesudah itu yang kita tunggu tinggal momentum. Kalau kita punya tigal hal di atas, maka peluang itu hanyalah masalah waktu. Kita akan mendapat kemenangan dan memimpin kalau kita mempunyai kemampuan mengelola ide-ide, memiliki kapasitas untuk mengeksekusi ide-ide itu, dan memiliki sarana untuk merealisasi ide-ide itu. Itu sebabnya, di Bali, kenapa salah satu isu yang kita angkat adalah keterbukaan, karena di Bali kita bicara narasi. Sekarang, di sini kita bicara tentang kepemimpinan kaum muda, karena kita bicara tentang kapasitas. Nanti, ketika kita bicara tentang managing globalization, kita akan bicara tentang sumber daya.

Ada fakta mendasar yang harus kita sadari, bahwa kepemimpinan dan kekuasaan adalah dua hal yang sangat berbeda. Fakta itu melahirkan kaidah-kaidah penting:

- Bahwa tidak karena engkau berkuasa, maka secara otomatis engkau akan memimpin.

- Bahwa kadang engkau bisa memimpin meski tidak berkuasa.

- Bahwa untuk bisa memimpin, tidak serta merta engkau harus berkuasa.

- Bahwa boleh jadi, sebuah kekuasaan hanyalah awal dari sebuah keruntuhan.

Jadi, persepsi kita tentang memimpin dan berkuasa, akan sangat mempengaruhi cara kita bekerja dan cara kita meletakkan kekuasaan dalam daftar tema-tema besar pekerjaan kita.

 

3. Hambatan-hambatan untuk menang

Cita-cita besar selalu punya caranya sendiri untuk direalisasi, tapi juga punya hambatan-hambatanny a sendiri yang harus disiasati. Hambatan akan selalu ada. Masalahnya kemudian apakah hambatan itu relevan atau tidak. Masalahnya apakah kita bisa menciptakan cara-cara untuk melampui hambatan itu dengan baik.

Hambatan paling mendasar yang harus kita sadari adalah hambatan persepsi dalam betuk sindrom-sindrom. Setidaknya ada empat macam sindrom yang harus kita waspadai yang akan banyak menjadi hambatan serius bagi tercapainya kemenangan.

- Pertama, Sindrom ketakutan bila menang. Sindrom ini lebih khusus terkait dengan ketakutan akan apa yang muncul dari kemenangan berupa fitnah dunia.

- Kedua, sindrom inferiority complex. Perasaan minder dan rendah, merasa tidak mampu. Padahal kerja-kerja kepemimpinan, yang salah satunya mencakup kerja-kerja politik, adalah jenis kerja-kerja yang dibangun di jalur eksperimen. Dan bahwa Islam lah yang pertama kali mengenalkan metodologi dan tradisi eksperimen. Sementara tradisi Yunani membangun filsafatnya atas dasar metafisika. Jadi eksperimen merupakan anak kandung peradaban Islam. Karena itu kerja-kerja dakwah dan politik harus merupakan kerja-kerja yang punya tradisi eksperimen yang kuat. Itu tidak bisa dilalui dengan sindrom rendah diri.
- Ketiga, sindrom pemisahan antara tarbiyah dan politik. Sindrom ini bisa memicu keresahan, menciptakan kesan dan perasaan, seakan-akan tarbiyah adalah kerja-kerja bersih, sementara politik adalah kerja-kerja kotor.
Melahirkan perasaan bahwa seakan-akan tarbiyah adalah kerja-kerja mulia, sementara politik adalah kerja-kerja yang hina. Perasaan bahwa orang-orang tarbiyah adalah orang-orang yang suci, dan orang-orang politik adalah orang-orang yang berlumur keburukan. Pemisahan seperti itu sungguh sangat membahayakan. Karena itulah dalam situas-situasi seperti ini, saya sering teringat dengan syair yang dibacakan Abdullah bin Mubarok kepada Fudhail bin Iyadh: wahai ahli ibadah di dua tempat suci, jika kalian menyaksikan kami niscaya akan tahu bahwa kalian bermain-main dengan ibadah itu, bila leher-leher kaliah basah berlumur air mata, maka leher-leher kami berlumuran dengan darah-darah kami

- Keempat, sindrom kesucian dalam berpolitik. Di sisi lain, perasaan suci juga bisa muncul dalam diri kita, sehingga menimbulkan sikap-sikap yang kurang produktif bagi perjalanan perjuangan kita. Seperti enggan bergaul dengan berbagai pihak. Karena kita menganggap kita suci, kita menganggap orang lain kotor. Sehingga kita pun tidak bisa memberdayakan. Padahal dalam hadits Rasulullah dikatakan,
“Sesungguhnya Allah akan menolong agama ini bahkan dengan orang yang suka bermaksiat.”

Persepsi yang harus kita bangun tentang mereka yang biasa berbuat maksiat adalah, pertama mereka obyek dakwah, kedua mereka adalah sumber daya. Suara orang kafir itu sumber daya, sebagaimana suara orang Muslim yang ahli maksiat, adalah juga sumber daya. Jangan sampai, karena kita merasa suci, kita tidak bergaul dengan orang lain. Sehingga kita tidak bisa memberdayakan. Menurut survey, salah satu faktor kemenangan kita di Jawa Barat itu karena dukungan orang-orang Cina dan tentara.

 

4. Realitas-realitas politik.

Pada dasarnya kita sudah melampui hampir semua tahapan krusial, yang bisa menghambat rencana dan tahapan-tahapan yang kita canangkan untuk menang. Gagasan tentang new look new image menjelang tahapan take off preparation, isu tentang pluralitas, yang terus kita gaungkan, semuanya cukup memberi efek positif bagi persepsi orang lain tentang PKS.
Pada saat kita memasuki tahapan big wave, seiring terus menguatnya persepsi positif orang tentang PKS, kita harus mengetahui betul realitas-relaitas baru dalam politik Indonesia. Di antara realitas yang sangat penting itu adalah:

- Realitas demografi, bahwa tren pertumbuhan masyarakat berusia muda –antara 17 tahun hingga 45 tahun– populasinya mencapai 65 %.
- Perbandingan kaum urban-rural. Menurut data dari BPS, perbandingan ini akan mengalami titik balik pada tahun 2010 di mana perbandingannya menjadi sekitar 54% urban dan 46 rural.

- Distribusi informasi yang semakin merata karena peran media.

- Tidak ada lagi asimetris informasi. Karena konektifitas, maka disparitas antara desa dan kota dalam soal informasi tidak relevan.
Realitas baru perpolitikan di Indonesia tersebut, akan menyokong terjadinya proses transformasi besar-besaran dalam tradisi perpolitikan itu sendiri. Setidaknya ada empat macam transformasi yang akan terjadi:

- Pertama, Transformasi dari politik aliran menuju politik kemanusiaan. Orang nanti tidak melihat ideologi itu sebagai soal benar salah, tapi bagaimana idelologi itu membangun kemanusiaan. Dulu orang berbicara nasionalisme, karena nasionalisme adalah padanan dari anti kolonialisme. Karena nasionalisme adalah alat untuk melawan imperialisme.
- Kedua, Transformasi dari politik pencitraan menuju politik konten. Karena itu iklan-iklan politik sekarang mengalami inflasi. Kata-kata dalam iklan itu menjadi sangat artifisial, karena yang ingin dilihat orang adalah artikulasi yang bersifat live, nyata.

- Ketiga, Transformasi dari tokoh kharismatik kepada tokoh kinerja. Akan ada transformasi bahwa masyarakat semakin mengutamakan tokoh yang berbasis kinerja dari pada tokoh yang berbasis kharisma. Dan, ini merupakan salah satu perspektif penting dalam komunitas urban. Karena itu di sini ikatan-ikatan primordial seperti suku bisa jadi tidak relevan.

- Keempat, Transformasi dari orientasi kekuasaan kepada orientasi kepemimpinan. Bahwa politik tidak bisa lagi dipersepsi sebagai sarana untuk mengejar ambisi kekuasaan. Itu tidak akan mendapat tempat di masyarakat, seiring dengan realitas-realitas baru.

Berdasarkan realitas tadi saya percaya bahwa partai yang akan memenangankan pemilu mendatang bukan lagi partai yang canggih dengan operasi politiknya, tetapi partai yang hadir dengan gagasan yang inovatif dan solutif, fresh idea, yang dapat membangun kembali rasa cinta dan bangga setiap warga negara kepada bangsa dan tanah air. Ide-ide yang inovatif dan solutif itu adalah ide-ide tentang the next Indonesia. Siapa yang bisa memiliki ide-ide tentang Indoneisa masa depan, dialah yang akan memimpin Indonesia.

 

5. Bagaimana Strategi Selanjutnya.

Sebelum masuk ke strategi selanjutnya untuk menang, kita perlu menjawab pertanyaan fundamental. Pertanyaan fundamental itu adalah “mengapa kita harus menang.” Jawaban dari pertanyaan fundamental itu, secara umum dapat disarikan ke dalam prinsip-prinsip berkut:
1. Bahwa kehadiran kita sebagai pemimpin adalah matlabun jamahriiyun li inqadzi asya’b. Adalah tuntutan publik untuk menyelamatkan masyarakat. Ini bisa kita sebut dengan tuntutan sosial.

2. Bahwa upaya-upaya penyelamatan masyarakat itu merupakan kewajiban agama, tuntutan syariat Islam. Ini bisa dikatakan sebagai tuntutan moral.

 

3. Bahwa ada keniscayaan sejarah terkait dengan pergantian generasi. Ini bisa kita sebut dengan tuntutan sejarah. Bahwa sebuah generasi pasti akan digantikan oleh generasi berikutnya.

Sesudah itu semua, kita berbicara tentang bagaimana cara kita menang pada sisa tahapan selanjutnya. Setidaknya ada lima tema penting yang harus terus ada dalam kesadaran kita. Lima kesadaran itu menjadi semacam tonggak-tonggak yang bisa dijadikan pusaran bagi segala cara, upaya, untuk menuju kemenangan pada sisa tahapan berikutnya. Lima kesadaran itu adalah:

1. Setelah image keterbukaan, pruralitas, kita perlu menukik lebih dalam kepada kesadaran publik, bahwa PKS adalah ruh baru kebangkitan Indonesia. PKS adalah ruh baru dan tulang punggung kebangkitan bangsa Indonesia.
2. Mempertahankan posisi PKS sebagai news maker, opinion leader dan trend setter. Karena itu, dalam konteks ini kita perlu mengartikulasikan secara lebih luas dan mendalam tentang the next Indonesia, dan the road map to the next Indonesia, step by step.

3. Memperkuat wibawa institusi partai.

Melalui pengokohan struktur, soliditas dan leaderhsip, serta kekuatan jaringan yang menjangkau setiap jengkal tanah di Republik ini.

4. Menebar pesona pribadi.

Maksudnya, keberadaan kita sebagai kader, sebagai dai harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam berbagai kerja-kerja politik dan dakwah kita.

5. Menguatkan penerimaan dan dukungan internasional.

Pada akhirnya, segala cita-cita punya kadarnya untuk kita geluti prosesnya secara maksimal, tahap demi tahap. Tapi ia juga punya kadarnya untuk kita serahkan kepada Allah dengan penuh pengharapan dan doa yang juga maksimal. Sejarah Islam juga mengajarkan, betapa Rasululah dan para pejuang pendahulu kita yang shalih, telah membuktikan, ketika umat Islam mengawali cita-cita dengan keyakinan iman, niat yang tulus, kerja yang tak kenal lelah, maka sesudah itu biasanya Allah sendiri yang mengambil alih sisa pekerjaan itu semua. Dan, memberi mereka kemenangan yang nyata, nasran aziza, dengan cara Allah sendiri.

Maka saya sangat yakin, bila kita memiliki keyakinan yang kuat, ketulusan niat, kebersamaan yang kokoh, dan kerja keras tanpa kenal lelah, nanti Allah juga akan mengambil alih sisa-sisa pekerjaan yang masih besar, lalu memberi kita kemenangan-Nya, dengan cara-Nya sendiri, bahkan sering melampui batas-batas imajinasi kita, tanpa pernah kita mengerti. Jangan pernah merasa kita akan bisa menyelesaikan pekerjaan ini sendiri. Tugas kita adalah menegaskan tekad dan memulai perjalanan. Setelah itu Allah akan membimbing kita hingga akhir perjalanan. Insya Allah.                        

Selamat datang Ramadhan!

_mg_2255_deden_muhlisin_Saudaraku, Ramadhan telah tiba. Bulan ampunan datang kembali. Saat melipatgandakan pahala menghampiri kita. Kasih sayang Allah kembali hadir untuk kita reguk. Mari kita tingkatkan kekhusyuan beribadah kita. Mari kita ajak isteri dan anak kita untuk menikmati Ramadhan yang mulia. Mari kita ajak sanak famili kita untuk mengisi indahnya Ramadhan.

Saudaraku, mohon maaf atas semua khilaf yang telah saya perbuat.

Saudaraku, mohon sisipkan doa untuk saya dan keluarga di tengah khusyunya bermunajat.

Saudaraku, doakan negeri ini agar segera keluar dari berbagai permasalahannya.

Saudaraku, doakan para aktivis yang berjuang membangun kembali negeri ini agar segera keluar dari krisis.

Saudaraku, mari kita tingkatkan kinerja kita di bulan suci ini agar bangsa ini segera memimpin dunia.

Harapan

Saudaraku, Beban berat yang dipikul bangsa ini harus segera diselesaikan. Persoalan bangsa yang rumit ini harus segera bisa diurai dengan baik. Mari kita tatap masa depan penuh dengan harapan. Kita harus mampu bergandeng tangan menyelesaikan semua persoalan bangsa ini. Apakah kita harus selalu menumbuhkan dendam diantara anak bangsa, karena kekeliruan orang tua kita? Haruskah bangsa ini tercabik karena tidak bisa saling memaafkan?

Saudaraku, sebagai anak bangsa yang memiliki harapan akan besarnya bangsa ini, saya akan selalu mengajak semua komponen bangsa untuk senantiasa berfikir dan berbuat untuk kebaikan bangsa ini. Mari kita perbaiki semangat kita dalam melakukan perbaikan. Insya Allah bangsa ini akan segera keluar dari berbagai krisis yang menghimpitnya.

Saudaraku, keragaman adalah keniscayaan bangsa ini. Dan kita tidak bisa melawannya. Indahnya negeri ini karena beragamnya kita.

Saudaraku, mari kita bekerja untuk perbaikan bangsa semampu kita. Jangan pernah anggap sepele kerja kita walau hanya membuang sapah pada tempatnya.

Saudaraku, mari kita duduk bersama, berbincang, dan bekerja untuk meyelesaikan semua persoalan bangsa ini.

Saudaraku, mari kita perbaiki kualitas diri kita agar bangsa ini layak memimpin dunia.

Negeri banyak dihuni oleh orang pintar, cerdas, obsesif dan kharismatik. Tapi negeri ini kekurangan orang hebat yang mau duduk bersama, menerima kekurangan dirinya dan kelebihan orang lain.

Saudaraku, kita harus segera menyelesaikan permasalahn ini.

OPTIMIS

Picture0737Saudaraku, hidup adalah upaya mewujudkan cita-cita. Begitu banyak orang yang gagal dalam hidup, karena mereka tidak menulis cita-citanya. Alhamdulillah, saya diajarkan tentang membangun cita-cita. Yang pertama menata diri dengan 10 kriteria. Memiliki aqidah yang baik, ibadah benar, akhlak yang baik, fisik yang kuat, mandiri secara ekonomi, senantiasa menambah wawasan, tertatanya semua urusan, serius memanfaatkan waktu, suungguh-sungguh menata diri dan bermanfaat bagi yang lain. Yang ke-dua membangun keluarga yang keluarga sakinah, mawaddah warohmah yang memiliki visi membangun peradaban baru.

Bahagia

Picture0698Saudaraku, pagi ini saya bertemu dengan lima anak muda yang punya mimpi besar. Anak-anak yang tidak kuliah karena keterbatasan ekonomi. Anak-anak yang yang ditolak bekerja di pabrik karena saking banyaknya yang melamar. Anak-anak yang kreatif menghidupi dirinya sendiri. Anak-anak yang mau memberi, tidak mau meminta. Anak-anak yang mau menjadi pelopor kebangkitan bangsa. Anak-anak yang ingin merubah nasib bangsanya. Anak-anak yang tidak meratapi kegagalannya. Anak-anak yang tidak iri melihat tetangganya kaya raya. Anak-anak yang berkepala tegak setiap bertemu siapapun. Anak-anak yang memiliki harga diri. Anak-anak yang memiliki mimpi besar. Mimpi membawa Indonesia memimpin dunia. Sungguh saya bangga dan optimis melihat wajah mereka. Semoga Bangsa ini segera berubah ke arah yang lebih baik.

Jangan Menyerah!

Pic0009Saudaraku, hidup ini adalah peperangan. Peperangan antara semangat dan malas. Peperangan antara bodoh dan pintar. Peperangan antara baik dan buruk. Kita semua memiliki peluang yang sama menjadi yang terbaik. Mari kita bangun semangat berkompetisi, semangat berlomba, semangat menjadi orang-orang yang unggul. Jangan menyerah dengan keadaan. Jangan lari dari kenyataan. Yakinlah kemenangan hanya akan direbut oleh mereka yang yakin dirinya akan menang. Kita adalah bangsa besar, bangsa yang memiliki berbagai syarat menjadi yang terbaik! Bangsa yang sangat pantas memimpin dunia. Bangkitlah Bangsaku! Harapan itu masih ada.

Older Posts »